Blog EntryFILOSOFI PERUT GENDUTApr 30, '08 7:32 AM
for everyone

Filosofi Perut Gendut

Haqra Dewi Safytra

            Karin terhenyak mendapati bayangan tubuhnya di cermin. Betapa ia telah banyak berubah. Wajahnya masam, alisnya mencuat ke atas, Jidatnya berkerut berapa lapis, belum lagi bibirnya yang dari tadi mendesis jengkel. Karin tengah seok dengan rasa percaya dirinya.  Sesekali ia menarik napas yang panjang dan menghembuskannya seketika. Sudah puluhan posisi yang ia coba, namun cermin seukuran badan yang dibelinya di Brazil waktu bulan madu itu tak memberinya sedikit saja kesenangan. Karin semakin mendelik. Wajahnya yang tadi masam kian buram. Kemudian ia menghempaskan badannya di ranjang.

            “Welcome to the ‘Mak-Mak’ club”. Desisnya hopeless.

            Siapa yang tidak kenal Karina Larasati? Si ratu pesta yang ramah, pintar, cantik dan tidak ketinggalan tubuh bak model plus berhasil menikahi Bimalarang Prajuda Dinata. Sesi ini tidak berlebihan, Karin memang sesempurna itu kok!!! Dan hidupnya semakin sempurna pada saat ia menikah dengan Bima.

            Sekarang pertanyaannya, siapa yang tidak mengenal Bimalarang Prajuda Dinata?!! Putra tunggal seorang pengusaha perusahaan Multinasional yang asetnya ada di beberapa negara. Sosoknya begitu mengharu-biru, sederhana namun mewah, ganteng yang tidak nyelekit (menurut Karin), dan juga pintar dalam segala hal. Itulah Bima. Dan kesempurnaan itu semakin memburatkan iri pada saat ia disandingkan dengan Karin. Mereka jelas pasangan dongeng yang menjadi nyata.

            Tapi itu dulu……,

            Sekarang tinggalah Karin dalam hidup sempurnanya yang kian sekarat pada titik koma. Apa yang berubah? Rasanya tidak ada. Bima masih jelas sangat menyayanginya, mertuanya sangat memanjakannya, hidup Karin masih bak ratu dalam dongeng. Terlebih setelah ia melahirkan Narra Bimapoetra Dinata, kasih sayang untuknya semakin bertambah saja. Lalu apa yang membuat Karin tenggelam dalam rasa cemasnya? Jawabannya adalah perut.

            Bukannya ia tak mengsyukuri hidupnya, hanya saja perutnya memang buncit setelah melahirkan Narra. Jangan membayangkan buncit seperti semar si tokoh wayang itu, atau buncit seperti tokoh bajuri dalam Sitkom “Bajai Bajuri”. Perut buncit Karin beda, bisa dikatakan aneh. Coba bayangkan model cantik Catherin Wilson dengan tubuh tingginya kurusnya itu, lalu tambahkan dengan perut gendut Indra Bekti misalnya. TADA..A..A..A……hasilnya adalah Karina Larasati Dinata!! Kombinasi yang aneh bukan?  Badan kurus tapi perut gendut. Tapi itulah wujud Karin setelah melahirkan Narra.

            Setelah melahirkan Narra, Karin hanyut dalam dunianya sendiri. Ia mulai berperang dengan sisa lemak semasa ia hamil dulu. Tapi beberapa bulan saja, badan Karin sudah susut. Meskipun pada bagian perut, Karin masih saja kalah. Sudah beberapa cara ia coba, mulai dari yang paling modern sampai yang paling sederhana seperti teknik laser, akupuntur, pilates, sit-up, lulur peluruh lemak sampai teknik pengencangan otot perut dari Nihon-TV dengan  menggunakan sedotan yang dikirimkan temannya dari Jepang.

            Khusus yang terakhir ini, caranya sangat sederhana. Cukup siapakan sedotan kemudian potong 5cm, ratakan salah satu ujung sedotan lalu tutup separuh lubang sedotan dengan selotip. Setelah itu Tarik napas dalam-dalam, lalu tiup sedotan dengan kuat selama 5 detik. Lakukan selama 3 menit perhari. Katanya poinnya, meniup napas kuat-kuat selama 5 detik. Beberapa orang yang melakukan di Jepang selama 2 minggu hasilnya berbeda-beda, tetapi semuanya berhasil mengecilkan perut. Menurut pakar, saat kita bernapas, otot perut lebih digunakan ketika mengeluarkan napas daripada menarik napas. Dengan menggunakan sedotan yang ditutup separuh, efek penggunaan otot perut menjadi berlipat.

            Saat dikirimi e-mail dari Jepang, Karin girang bukan kepalang. Soalnya Karin terlanjur pusing dengan teknik laser, ia takut dengan efeknya. Apalagi lulur-luruan, ia kurang suka repot-repot. Juga dengan teknik akupuntur, ia phobia dengan jarum. Terus sit-up? Ah…belum 5 kali saja ia sudah mual duluan! Hanya pilates yang betah ia lakoni, itupun dengan embel malas. Jadi jelas e-mail itu bak malaikat.

            Setelah Karin mempraktekannya ia merasa aneh. Perasaannya mengambang, antara senang dan tidak. Bukan tidak berhasil. Hanya saja Karin merasa selain perutnya agak mengecil sekian cm, pipinya dirasa ikut kendor menggelambir karena banyak meniup sedotan! Jadi belum apa-apa Karin sudah ogah duluan! Melihat itu Bima hanya menggelengkan kepalanya.

            Bima suami yang baik, di tengah kesibukannya yang padat ia masih merelakan kupingnya mendengar ocehan karin tentang perutnya yang katanya buncit. Dan bagi Karin itu lebih dari segalanya, Bima mau mendengarnya mengeluh sudah lebih dari cukup. Meskipun hanya menjelang tidur saja ia bisa menatap intim wajah suaminya itu, namun perasaan jauh tidak menghinggapi fikirannya. Ia masih merasa memiliki Bima seutuhnya.

            Tapi seperti pasangan suami istri lainnya, kadang Karin juga merasa Bima kurang mengerti dirinya. Kadang ia dan Bima juga bergumul dalam perbedaan dan pertengkaran. Masalahnya ada-ada saja. Seperti seminggu yang lalu, Karin puasa bicara pada suaminya. Pemicunya sepele. Bima merasa terlalu berlebihan jika Karin harus berakhir di meja oprasi untuk mengecilkan perutnya.

            Awalnya perkataan Bima itu tidak terlalu menusuk hati Karin. Hanya saja lanjutan sesi itu yang membuatnya menangis. Bagaimana tidak, Bima menganjurkannya konsultasi dengan ahli jiwa. Karin tidak terima itu!! Ia mendelik beringas pada suaminya di meja makan. Saat itu mereka sedang sarapan. Dan yang lebih membuat Karin meringis, Bima hanya meninggalkannya tanpa mempertanyakan air mata itu. Biasanya Bima sangat panik melihat karin berbalut air mata. Namun sesi itu, ia hanya ngeloyor.

            Namun malamnya, mereka dipertemukan di ranjang. Biasanya Karin akan memulai ritual itu dengan ceritanya yang segudang, entah itu tentang Narra yang sudah bisa bilang ini dan itu ataupun tentang perutnya yang gendut. Namun malam itu hening. Hanya ada nafas Bima dan Karin yang saling beradu.

            Sekian menit hening, tiba-tiba Bima tersenyum. Tanpa ragu ia memeluk Karin erat yang saat itu berbaring membelakanginya. Ia mencium tengkuk Karin dengan lembut. Biasanya karin akan berontak karena ia paling tidak tahan ada yang menyentuh tengkuknya. Namun malam itu semuanya berbeda, Karin nyaris tanpa reaksi. Ia ingin membuat Bima berfikir bahwa ia telah tidur dalam pulasnya.

            Marah Karin masih mengubun saat itu. Tapi Bima tetap pada pelukannya. Ia berbisik di telinga Karin dengan lembut. “Tidak ada yang bisa melengkapi apa yang sudah lengkap beb…termasuk bahagia. Tugas kita hanya menemukannya, tidak di luar namun di dalam diri kita sendiri.” Bima mendesis nyaris tidak bersuara. Namun lamat-lamat Karin jelas mendengarnya.

            “Bagaimana mungkin kita berharap orang lain menyayangi kita jika kita tidak menyayangi diri kita sendiri. Itu karena semuanya mulai dari sini.” Lanjut bima sambil menekan dada karin. “Ia tepat di sini, di hati kita.” Karin masih tanpa reaksi. Bima kembali mengudara dengan kalimat panjangnya.

            “Aku tidak ingin menikah dengan seorang wanita yang tidak bisa menemukan bahagianya pada titik syukur. Aku tidak ingin menikah dengan wanita yang rela bagian tubuhnya disayat-sayat hanya untuk sesuatu yang dianggapnya sempurna dan bisa membahagiakannya.” Karin terhenyak. Bima semakin mendekapnya erat. Ia tahu Karin mendengarnya. “Aku tidak ingin berfikir bahwa Karin-ku tidak bisa menerima dirinya sendiri…aku ingin Karina larasati-ku tahu betapa aku sangat mecintainya dengan perut buncit ketimbang perut hasil oprasinya.” Ada getaran pada ucapan Bima. “Karena perut buncit itu telah memberi aku Narra, yang bagiku adalah paket kebahagiaan dalam hidup. Lalu apa salahnya dengan perut buncit itu..?” Bima mengakhiri kata-katanya dengan satu kecupan lagi di tengkuk Karin.

            Karin merinding, beribu perasaan bersalah menohoknya dari belakang. Karina malas mengakuinya, namun melihat tingkahnya yang sangat membenci perutnya sendiri, mungkin memang ia butuh psikolog seperti kata Bima. Karin mulai tenggelam dalam awang-awang fikirannya.

            Malam itu berlalu dengan Bima dan Karin yang seolah baru saling mengenal. Karin berbalik dan memeluk Bima erat. Karin merasa ia memang tolol, percuma IPK-nya yang 3,74 jika hanya karena perut yang buncit bisa membuatnya lupa bahwa di hidupnya ada kebahagiaan lain yang seharusnya ia syukuri. Ada Narra yang memberinya gelar ‘Ibu’ dan ada Bima yang memanggilnya ‘Istriku’….lalu kebahagiaan apa lagi yang ia cari?

            Setelah malam itu, Karin tak lagi berfikir konyol tentang oprasi. Ia mau yang lempeng-lempeng saja. Karin masih aktif di kelas pilates-nya bahkan sekarang ia mengambil kelas intensif, bahkan sesekali ia masih mempraktekkan tips dari temannya di Jepang. Melihat usaha kerasnya, karin memang masih menginginkan perutnya susut, tapi sekarang keinginan itu bukan lagi obsesi.

            Hari itu, entah tanggal berapa, karin tidak mengingatnya dengan jelas. Tapi apa yang terjadi hari itu tertancap kuat di benak karin. Ia tidak pernah membayangkan hal itu sebelumnya.

            Pagi-pagi sekali ibu mertuanya menelponnya. Beliau sedang ada di Singapura bersama ayah mertuanya. Pagi itu Karin sangat panik. Bukan karena ibu mertuanya memarahinya tapi ia panik untuk alasan yang lain. Ibu mertuanya meminta karin untuk menggantikannya di acara peresmian yayasan perusahaan yang baru. Memang acaranya simple, tinggal hapal teks pidato 3 paragraf, pegang gunting dan senyum yang manis lalu potong pita. Itu kata ibu mertuanya.

            Karin hanya bisa mendelik! Baginya tidak sesederhana itu. Yayasannya ada di NTT, ia tidak rela meninggalkan Narra meski hanya beberapa hari saja. Bahkan sekedar untuk latihan pilates saja, ia merasa sangat berdosa meninggalkan Narra apalagi ke luar kota!! Karin takut membayangkan Narra memanggil suster-suster di rumah dengan panggilan ‘mama’!! Lagipula Karin yakin, dari apa yang didengarnya selama ini, NTT bukanlah tempat yang bersahabat.

            Berjuta pikiran aneh menyergap Karin. Tapi sebesar apapun perasan itu, toh ia tetap tidak bisa menolak. Dan akhirnya karin tetap berangkat ke NTT, rencananya ia akan berada di sana selama 3 hari. Banyak yang mesti ia lakukan, setelah peresmian ia harus melakukan kunjungan-kunjungan di daerah-daerah terpencil di NTT. Membayangkan itu karin mendadak pusing.  Tapi seberapa pusing pun karin, toh pada akhirnya ia berangkat ke sana juga. NTT memang bukan pulau yang bersahabat bagi Karin. Matahari cukup terik di sana, seolah menantang kulit karin yang terawat oleh lulur dan SPA untuk berduel. Ia jelas tahu kulit putihnya akan kalah dengan matahari. Jadi walaupun gerah, Karin tetap kekeuh memakai pakaian serba tertutup. Sialnya lagi aktifitas Karin sebagian besar berada di luar. Jadi ia terpaksa harus beramah-tamah dengan matahari. NTT semakin tidak bersahabat saja di benaknya…

            Hari kedua ia di sana membuat karin merasa jenuh. Dari kemarin ia harus selalu tersenyum pada semua anggota yayasan, mengunjungi para buruh kerja di ladangnya, sekolah-sekolah dan puskesmas-puskesmas. Dalam hati karin sebenarnya ada biak keprihatinan. Tapi rasa gerah yang sangat membuatnya lupa caranya bersedih. Di otaknya hanya ada satu kalimat : “Kapan semuanya berakhir, aku rindu Bima, Narra dan AC!!!”. Jadi sesi kunjungan yang seharusnya penuh haru itu hambar dan berlalu tanpa jejak di benak Karin.

            BELOM SELESAI>>>IDENYA mentok....gak tau ending nya harus bagaimana

tolong dong kasih ide ya..


aqlasiput wrote on May 1
hikssssssssssssssss
gak ada yang leave commentnya
jadi mewek nehhhhhh
zemoza wrote on Jun 14
haeehh... belom selesai ternyata.... ^_^
aqlasiput wrote on Jun 15
zemoza said
haeehh... belom selesai ternyata.... ^_^
horeeeeeeeeeeeeeeeee ada yang baca
iya...belum selesai....minta idenya yah...kekekekek
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help