Reuni Lajang
NINING, ruang kantor full Ac yang pengap!
Matanya bergeming dari monitor komputer, mengamati. Ada banyak ekspresi aneh yang muncul silih berganti di wajah itu. Aku sudah lelah…..,pekiknya dalam hati. Ah…..Nining, betapa malangnya kau!!!! Hatinya terus memaki.
Ia mendesah panjang. Entah sejak kapan ia menjadi gadis tipe worckaholic seperti sekarang ini. Ia tak tahu. Tepatnya ia sangat malas untuk tahu! Terkadang ia sangat ingin menikmati hal-hal kecil yang tak pernah ada cukup waktu baginya untuk dilakukan. Entah itu mengurus dapur, membersihkan kamar, berkebun bunga….dan bla-bla-bla-bla…..!!!! Oh don’t be dreaming…..sergahnya buru-buru.
NINING. Gadis berambut coklat sebahu. Ia tipe wanita yang mempunyai bergaining power yang tinggi. Malas untuk sekedar berkompromi bahkan dengan dirinya sekalipun. Tipe yang tak punya waktu untuk seorang pria tentunya. Pikirannya tak punya sedikit celah untuk yang satu itu. Waktunya ia habiskan untuk bekerja…..meeting….laporan….evaluasi kerja….nego….dan banyak lagi tetek bengek yang sekarang ini bosan untuk ia ingat. Jadi wajar pria tak membuatnya ketar-ketir di usianya yang sudah menginjak 30 . Usia yang sudah lebih dari mapan untuk menikah.
APA……….MENIKAH!? Huh… jangan coba katakan padanya hal yang satu itu. Umur bukan bukan motivator ulung bagi nining. Ia belum ingin menikah….BUKAN TIDAK INGIN MENIKAH!!!!!!! Buktinya ia pernah juga jalan dengan seorang pria. Anton, eksekutif muda dengan jiwa petualang, dari keluarga ningrat, tampan, sukses…. Jadi apalagi yang ia tunggu?!!! Tapi Nining adalah Nining…dengan sedikit keangkuhannya ia menolak ajakan pria tersebut untuk menikah. Saat itu semua orang menganggap ia bodoh…atau mungkin gila. Tapi menurutnya ia bukan calon istri yang tepat untuk dikurung di rumah setelah ijab kabul!!!!!! Dan Anton maunya begitu….tapi Nining jelas tidak. Ia tetap seorang wanita mapan yang punya bergaining power yang tinggi…MALAS UNTUK SEKEDAR BERKOMPROMI.
Seperti pagi ini ia sedang terkurung di tempat yang lebih sering ia tempati di banding kamarnya sendiri. Ruangan yang dulunya adalah sebuah metamorfosa dari gengsinya yang sangat memakan banyak energi. Sebuah kebanggaan tepatnya, memangnya siapa lagi gadis seusia dia yang mampu menduduki jabatan seperti Nining di perusahaan ini? Dan ya…lihatlah ia sekarang, ia tak lebih dari seorang robot yang hanya bisa menyenangkan bosnya ketimbang membahagiakan dirinya sendiri.
Tiba-tiba Mira, asistennya, membuyarkan lamunannya. Dengan muka dinginnya ia menatap Mira. “Ketok pintu dulu Mir…”ucapnya dengan nada yang dilembutkan…
“Maaf bu, tapi tadi saya sudah mengetuk pintu ibu. Tapi tak ada jawaban.” Mira menyahut setengah bingung. Sementara Nining hanya bisa mendesah panjang. Rupanya ia melayang terlalu jauh tadi. Aktifitas paling baku sedunia yang hanya bisa membuang kalori serta detik menjadi tidak berguna…..
“Ada apa?” Ia mulai membangun semangatnya. Semangat yang ia mulai dengan sebuah tanya..
“Tadi ibu dapat telfon dari seorang bernama Norah.” Mira membuka agendanya. “Ia tidak meninggalkan pesan, hanya meminta saya untuk mengingatkan ibu tentang acara tanggal 23.”
“Oh…..” Ia mendesah. “Hanya itu?” lanjutnya setengah antusias, setengahnya lagi malas. Mira mengangguk.
Ia kembali mendesah. Akhir-akhir ini, ia mulai berubah menjadi orang dengan hobi yang entah diadopsi dari planet mana. MENDESAH. Tapi keadaan yang memaksanya begitu. Dan detik ini memori lapuknya kembali berputar.......Tanggal 23 bulan ini ia harus kembali berada pada komunitas menjengkelkan yang isinya hanya orang-orang dari masa lalu. Reuni. Perkumpulan yang isinya tak lebih dari serangan Nuklir dasyat dimana pertanyaan licik menjadi senjata utama yang beracun. Objeknya bukan lagi nyawa tapi pikiran. Mereka semua berkumpul…tanya sana-tanya sini….todong sana-todong sini. Ah…sedemikian klise bagi Nining untuk kembali diingat. Betapa tidak, kalau yang dipertanyakan hanyalah pernikahan, keluaraga atau yang lebih parah lagi anak!!!! Ninig refleks bergidik. Ia merasa tertekan jika diberondong pertanyaan tipe dongkol macam itu. Tapi yang lebih mendongkolkan lagi, ia tak bisa berkelit apalagi lari. Dan sekarang ia mesti membangun mentalnya, bata demi bata. Sekarang saja ia mulai membayangkan, bagaimana reuni itu nanatinya. Pasti tidak beda jauh dengan yang lima tahun lalu. Bahkan mungkin lebih, mengingat usianya yang makin nambah.
NORAH, kebun bunga di belakang rumah.
Norah tercenung. Matanya menerawang jauh. Entah sejak kapan ia terkapar dalam khayalannya, di tengah hiruk-pikuk aroma bunga yang pekat. Ia semestinya tak berfikir macam-macam, ah….Norah yang terlalu pemalu. Norah yang pencemas….gugup…dan tak bisa berbasa-basi dengan siapapun. Mungkin itu sesungguhnya yang membuat ia selalu terasing. Tak ada yang sanggup berhadapan dengan sikap canggungnya. Tidak ada ada orang lain, tidak pula dirinya sendiri.
Ia berusaha beranjak dari pikirannya yang ngelantur. Norah...tak bisakah santai dan berkenalan sejenak dengan dirimu sendiri, sapanya dalam hati. Ia tersenyum simpul. Entahlah, ia rasanya malas hadir di reuni kali ini. Tapi mesti bagaimana lagi, ia tak punya alasan untuk absen. SELALU SAJA BEGINI, desisnya tenang. ANDAI ADA SEORANG PRIA YANG MAU MENEMANI AKU KE REUNI ITU. Ia membatin kembali. Ide yang tak pernah ia realisasikan. Selalu mentok, tak berkelanjutan.
Sejuta penat rupanya sudah tercangkok dalam batok kepalanya. Ia sangat ingin lupa semua hal yang diingatnya tentang reuni lima tahun yang lalu. Tapi ia benar-benar tak tahu caranya untuk lupa. Tiba-tiba retina matanya dipenuhi dengan tatapan-tatapan iba temannya. Ajeng, teman sekelasnya yang memulai kehidupan rumah tangganya di usia 22 tahun. Ia berseloroh renyah saat itu.
“ Norah,,,,masalahmu hanya satu. KURANG PROMOSI. Sifat pemalumu itu tak lazim. Apa yang bisa membuatmu malu?” Ia sepertinya mengatakan itu tanpa beban. Sementara Norah, ia merasa di hantam…..seolah-olah ia baru bertemu dengan sang kebenaran yang lama tersisip entah di mana. Ia menjadi bingung. Ucapan lima tahun yang lalu membuatnya limbung di sudut pengap tanya sampai sekarang. Padahal lima tahun bukanlah waktu yang singkat untuk merenungi dan mencerna kata-kata Ajeng. “KURANG PROMOSI dan PEMALU”. Ucap Norah pelan, masih dalam ketidak mengertiannya.
YUSAULA, di tengah hiruk-pikuk pesta.
“Ah….aku tidak termakan idiologi kolot macam itu!!!!” Ayu mencibir. Seketik raut mukanya menjadi masam. Penyebabnya hanya karena Reno berinisiatif untuk segera menikah. Bagi Reno itu adalah inisiatif paling brilian dan klimaks dari sebuah hubungan. Tapi bagi Ayu, itu inisiatif dan keinginan paling norak sedunia.
Ia tak habis fikir, segampang itukah menjalin sebuah komitmen. Bagaimanapun Ayu takut, bukan….bukan takut pada komitmen itu. Tapi pada imbas komitmen tersebut. Major bullshit!!!! Ia mengumpat pada dirinya sendiri.
Sementara Reno tak bisa berbicara apa-apa. Ia mandek pada titik kejenuhan untuk menunggu Ayu, pujaanya, siap menikah. Reno bingung, Ayu kalap.
“Sudah kuputuskan, tak ada pernikahan. Tak ada embel-embel komitmen tolol macam itu. Aku terlalu liar untuk kau ikat. Dan yang lebih penting aku terlalu naif untuk menerima tawaranmu”. Ayu berseloroh sambil berlalu. Reno hanya mematung. “Jawaban yang teramat begitu eksotik”. Batinya. Ia tahu segalanya akan berakhir begini, tapi cintanya pada Ayu memaksanya untuk menyimpan ketakutan tersebut di ujung pikirannya agar tidak menyeruak bagai paradigma pelik yang tak punya ujung. Ia menyerah…Reno sudah terkulai tanpa daya. Ia tak punya stok keberanian lagi untuk menatap Ayu pergi. Ia hanya tuduk. Tunduk untuk sebuah kejenuhan.
MENTOK JUGA IDENYA.............PLIZZZZZZ sUMBANGIN IDENYA